Burung camar terbang tinggi dilangit, ia memang dilangit, dan terus melihat keatas tanpa batas. Tapi ia bergerak maju, bukan keatas
Sarang ia tinggalkan untuk mencari jati dirinya atau menemukan apa yang ia cari. Siapa tahu yang ia cari bukanlah jati diri, tapi sesuatu yang biasa. Walaubagimanapun ia tetap pergi,kadang bergerombol, kadang pun tidak, tak tahu apa ia tersesat atau menyesat. Kadang juga perjalanan itu melupakannya, kadang sia-sia pula, apa mungkin perjalanan ini Cuma memenuhi hasrat keinginanya untuk melihat angkasa luas yang tak berbatas?
Ia memang terbang, tapi tetap tinggal di tanah, walaupun bukan seutuhnya tanah, tapi masih bersentuhan. Tempat tinggalnya cukup nyaman,dari ranting-ranting yang tersusun sangat rapih. Helai demi helai, pucuk demi pucuk. Tapi tak senyaman itu untuknya. Kadang begitu nyamannya sehingga ada ular masuk yang melilit sebagian kaki burung itu. Terkadang ia susah berjalan, tapi ia masih punya sayap untuk terus terbang Jadi apakah perjalanan hanya untuk melupakannya dari daratan?