Archive for September, 2009

Burung Camar

Posted in 1 on September 16, 2009 by Harish

Burung camar terbang tinggi dilangit, ia memang dilangit, dan terus melihat keatas tanpa batas. Tapi ia bergerak maju, bukan keatas

Sarang ia tinggalkan untuk mencari jati dirinya atau menemukan apa yang ia cari. Siapa tahu yang ia cari bukanlah jati diri, tapi sesuatu yang biasa. Walaubagimanapun ia tetap pergi,kadang bergerombol, kadang pun tidak, tak tahu apa ia tersesat atau menyesat. Kadang juga perjalanan itu melupakannya, kadang sia-sia pula, apa mungkin perjalanan ini Cuma memenuhi hasrat keinginanya untuk melihat angkasa luas yang tak berbatas?

Ia memang terbang, tapi tetap tinggal di tanah, walaupun bukan seutuhnya tanah, tapi masih bersentuhan. Tempat tinggalnya cukup nyaman,dari ranting-ranting yang tersusun sangat rapih. Helai demi helai, pucuk demi pucuk. Tapi tak senyaman itu untuknya. Kadang begitu nyamannya sehingga ada ular masuk yang melilit sebagian kaki burung itu. Terkadang ia susah berjalan, tapi ia masih punya sayap untuk terus terbang Jadi apakah perjalanan hanya untuk melupakannya dari daratan?

Siap Bos (2)

Posted in Ke barat mencari kitab suci on September 16, 2009 by Harish

Masi soal bos-bosan. Ada di benak gw sebagai bawahan,tapi Gimana ngomongnya ya? Sebenernya bukan cuma bawahan yang butuh bos, tapi bos juga butuh bawahan. mana ada yang disuruh suruh kalo ga ada bawahan? tapi sayangnya kalo bos butuh bawahan kayaknya Cuma sebentar, abis manis sepah dibuang lah peribahasanya hha. Kesel juga sih mau gimana lagi tapi? Yang parahnya lagi kalo bosnya juga lagi ga enak hati. Abis disuruh suruh si tetep dongkolnya tetep kena ke kite juga

Kadang bos juga bisa jadi temen yang baik juga sih. Masalahnya balik lagi, temen sih temen tapi kalo salah tetep aja bawahan yang kena hahha, jadi bisa mbilangin bos Cuma pas saat dia jadi temen bukan jadi bos. Susah juga ngebedainnya, tapi dari pada salah ngomong lebih baik berhati hatilah hahha. Perasaan bos bisa berubah ubah biasanya, dalam sekejap bisa beda 180 derajat. Jadi kita tetep harus tau batasan dan norma-norma bertemen sama bos, sudah siapkah kalian para bawahan? hahaha

Siap Bos

Posted in Ke barat mencari kitab suci on September 15, 2009 by Harish

Emang ga salah si kalo kita sbagai bawahan di atur2. Karena memang namanya aja bawahan, posisi kita masih dibawah. hha. Ada bawahan pasti ada bosnya. Bos tiap orang macem-macem, ga bakal sama. Yang lebih sedih lagi bawahan yang ga punya bos, siapa yang mau nggaji?

Gw bilang kan bosnya tuh macem2, ada yang bener-bener bossy, ada yang biasa aja, ada yang cuek sama sekali, banyak banget macemnya. Biasanya sih, biasanya, bos tuh nyuruh emang supaya kita bisa kerja yang bener, kalo ga bener yang rugi kan kita juga. Tapi yang sering kita pikirkan kan caranya si bos ngingetin kita, kadang kena juga ke kita, hha, apa itu cuma perasaan?

Yang lebih susah lagi kalo ada bos yang salah aja dikit, beh gimana ngingetinnya? ada sih yang nerima, tapi kadang ada juga yang batu, uda bener-bener salah dia masih nganggep “yelah Cuma bawahan” jadi gimana ya enaknya? Kapan ya gw jd bos hahahah

Quotes

Posted in Quotes on September 13, 2009 by Harish

“Kalo dipikir pikir, Cuma mikir menjinakkan bom itu gampang tinggal gunting aja kabelnya. Tapi coba liat, kalau ga tau bomnya salah gunting bisa meledak”

“Buka mata hati telinga, masih ada yang lebih penting dari sekedar…….”

“Why golf is played by rich people? Because they do the driving well”

Patung Pemikir

Posted in 1 on September 13, 2009 by Harish

Aku disini seperti patung duduk diam takk menentu melihat sosok congkak angkuh yang sumringah terus menengadah

Tak sedikitpun mengharap seonggok kasih dari kastil besar yang kokoh berdiri dengan batu batu gioknya yang keras. Mungkin ia keras, tapi serpih serpih didalamnya membuat ia rapuh.

Sinar mentari pun hanya menelobos lewat celah kecil perkusen raksasa yang rapat, sangat kecil dan sedikit. Satu ruang pun tiak cukup disinarinya, itu juga kadang kadang. Tapi aku tak tahu apa diseberang terjadi hal serupa karena aku hanya seonggok patung yang tak bergeser dari perteduhanku.

Kastil itu tak pernah sekali pun kalah dalam pertarungan politik, dengan perdana mentrinya lang licik. Ia membebaskan tanah pertanian rakyat rakyatnya hanya untuk memperluas kastil yang berisi tanah merah terbuka. Tak satupun berani menolak, kecuali atas perintah para leluhur.

Memang sampai saat ini selalu datang kepada kastil itu pedagang pedagang yang menawarkan barang dagangan. Itu juga tergantung dagangannya, mereka diberi izin keluar masuk kastil. Ada sebagian yang menetap diluar, kadang kadang Cuma dipanggil tapi tak digubris. Aku tahu memang sebagian ingin masuk tapi mau bagaimana lagi? Giok itu tampak sangat keras dari luar. Tapi tadi aku bilang sampai saat ini bukan? Aku sempat berpikir kalau kalau para pedagang itu sudah tak lagi menjual dagangannya ke kastil dan matahari telah bergeser dari kusen kusen raksasa yang rapat itu. Apa kastil itu merobohkan tembok tembok gioknya?