Patung Pemikir
Aku disini seperti patung duduk diam takk menentu melihat sosok congkak angkuh yang sumringah terus menengadah
Tak sedikitpun mengharap seonggok kasih dari kastil besar yang kokoh berdiri dengan batu batu gioknya yang keras. Mungkin ia keras, tapi serpih serpih didalamnya membuat ia rapuh.
Sinar mentari pun hanya menelobos lewat celah kecil perkusen raksasa yang rapat, sangat kecil dan sedikit. Satu ruang pun tiak cukup disinarinya, itu juga kadang kadang. Tapi aku tak tahu apa diseberang terjadi hal serupa karena aku hanya seonggok patung yang tak bergeser dari perteduhanku.
Kastil itu tak pernah sekali pun kalah dalam pertarungan politik, dengan perdana mentrinya lang licik. Ia membebaskan tanah pertanian rakyat rakyatnya hanya untuk memperluas kastil yang berisi tanah merah terbuka. Tak satupun berani menolak, kecuali atas perintah para leluhur.
Memang sampai saat ini selalu datang kepada kastil itu pedagang pedagang yang menawarkan barang dagangan. Itu juga tergantung dagangannya, mereka diberi izin keluar masuk kastil. Ada sebagian yang menetap diluar, kadang kadang Cuma dipanggil tapi tak digubris. Aku tahu memang sebagian ingin masuk tapi mau bagaimana lagi? Giok itu tampak sangat keras dari luar. Tapi tadi aku bilang sampai saat ini bukan? Aku sempat berpikir kalau kalau para pedagang itu sudah tak lagi menjual dagangannya ke kastil dan matahari telah bergeser dari kusen kusen raksasa yang rapat itu. Apa kastil itu merobohkan tembok tembok gioknya?