Hari 2

Hai hari kedua (kayaknya hutsuka)

Hari kedua ini tidak ada kegiatan yang wajib sih. Cuma kerjaannya nyoba2 fasilitas di ryou ini.

Pertama pagi-pagi saya mencoba namanya shower room.

Shower room ini terletak (sesuai yang saya bilang sebelumnya) di lantai 1, beda 4 lantai dari lantai 5. Jarak tempuh jika ditarik garis lurus sama dengan akar dari 122 + 202. Walaupun terlihat dekat(tchikai) , hal ini sangatlah berat jika kita pertimbangkan ini dilakukan di pagi hari(asa). Di jepang waktu berasa sangat cepat berganti, orang-orang bergerak dengan sangat detail, cepat (hayai), dan akurat. Tidak ada waktu yang tersisa buat nganggur-nganggur. Nah orang-orang jepang ini biasanya beraktifitas sampai larut malam, kalau jam-jamannya sekitar jam 12 sampai jam 2 lah. Setelah itubaru mereka tidur, dan mengakibatkan bangunnya lebih siang dari pada orang-orang di Indonesia (dan saya beum terbiasa dengan hal ini) sekitar jam 7 atau jam 8 lah. Kalau kita orang islam (muslim) wajib menjalan kan solat subuh dan telah terbiasa bangun sangat pagi. Ya kurang lebih sekitar jam 5 pagi hari dan mandi setelah itu. Saya mencoba mempraktikannya di sini. Dan hasilnya, suhu di jepang itu sekarang sudah lumayan dingin + air yang sudah agak dingin hasilnya air yang sudah lumayan agak SANGAT dingin (totemo samui). Tidak berbohong. Tapi seger sih, Cuma tantangan terbesarnya pada saat pertama mau kena air aja, kalau sisanya kah tanggung tuh kalau sudah kena air (mizu). Oh iya shower room ini dilindungi dengan pintu (jeruji) besi yang sangat tebal(atsui doaa) dan memakai PIN. PINnya terdiri dari 5 huruf dan angka. Jadi yang bukan siswa ataupun siswa perempuan tidak bisa masuk ke shower room laki-laki. Begitu juga sebaliknya.

Baru setelah itu saya mancoba telpon yang ada di kamar saya. Telpon ini pembayarannya berbentuk pra bayar. Kita bisa isi ulang dibawah. Cuma dengan menggesek kartu yang diberikan dan memasukkan uang ke dalam mesin itu dan menggeseknya lagi. Setelah itu pulsa (bahasa yang sering kita sebut di Indonesia) sudah terisi sebesar 1000 yen. Katanya sih tarifnya mahal banget. 1000 yen itu Cuma bisa nelpon 10 menit, atau kurang atau lebih sedikit.(walaupun sebenernya punya saya itu belum habis) Yang jelas nelpnnya gak bisa lama-lama. Tapi dengan telpon ini berguna banget walaupun Cuma ngomong sebentar yang penting kita sudah memberi kabar ke orang tua dirumah. Takutnya orang tua dirumah khawatir (sinpaisimas).

Setelah itu saya dia ajak senpai saya yang bernama iandre berkeliling dan nanti akan diajak (diperalat) ke kamarnya yang di daerah lumayan jauh (kayaknya tokorozawa).  Walaupun sedikit agak ngaret sekitar jam 4an kita berangkat. Pertama kita ke shinjuku mau cari barang elektronik di toko yang namanya LABY. Saya juga kurang mengerti. Toko-too kaya gini tuh banyak sekali dijepang. Padahal isinya Cuma elektronik (tapi lengkap sih bukan Cuma) itu terdiri dari 4 sampai 5 lantai 1 toko. Dan di shinjuku aja (katanya) ada 5-6 toko yang kaya gitu haduh. Harganya sangat fluktuatif. Bisa sangat murah (totemo yasui) bisa sangat mahal (totemo takai). Saya kesana berniat lihat-lihat (survey) kulkas (reizoko), microwave, rice cooker, dan denshi jisho. Dan sekalian karim mau lihat-lihat beli laptop.  Dan saya ngelihat rice cooker yang lumayan murah dan kepingin beli pas pulang dari rumahnya Iandre. Setelah selesai liat –liat, saya di ajak dan lebih asiknya lagi ditraktir makan sama Iandre, di sebuah resotran itali di daerah yang ga tau namanya, katanya sih 3 stasiun sebelum tokorozawa. Kita disitu duduk sambil ngobrol-ngobrol banyak tentang hidup di Jepang dan gimana tentang masa-masa gakkou dan perkuliahannya. Banyak yang kita baru tahu dan tetep diingetin bahwa di sini tuh jangan ngeremehin segala sesuatu. Yang kita anggap gampang bisa ternyata itu sangatlah susah. Katanya walaupun begitu susah kuncinya kita perlu berpikir seperti orang jepang. Orang jepang juga kalau disuruh ngerjain soal SPMB di Indonesia juga dia yakin pada gak bisa. Semua bergantung pada cara berpikir masing-masing. Yang bisa dipengaruhi lingkungan hidup yang berbeda-beda. Dan diperingati 1 hal lagi. Jangan sama kan kita dengan monbugakusho, anak-anak monbu itu saingannya anak-anak monbugakusho juga. Mereka sudah dapet jatah tersendiri di Universitas-universitas negri. Tapi mereka harus bersaing mendapatkan yang mereka inginkan. Sedangkan kita dari beasiswa mitsui, butuh kekuatan untuk bersaing secara frontal melawan anak-anak dari korea, cina, arab, dll. Dan katanya (isu yang beredar di dunia ini) anak-anak ini belajar gila-gilaan mati-matian untuk mendapatkan yang mereka impi-impikan. Yak memang benar kita harus berjuang juga mati-matian. Nah setelah agak lama kita makan. Tak terasa uda waktu shalat magrib. Iandre menyarankan kita naik taksi aja biar waktunya masih sempat untuk shalat maghrib. Dan tidak banyak nyasar Cuma sedikit muter, kita sampai kerumah Iandre. Kontrakannya sangat bagus dengan segala fasilitas yang ada, dan harga yang ditawarkan. Cuma sayang, letaknya agak jauh dari pusat kota atau pusat keramaian, sekitar 1 jam perjalanan. Tapi hidup itu pilihan. Tidak akan mungkin dengan harga yang sama bisa mendapatkan fasilitas sebegitu bagus seperti disitu. Tak lama kemudian setelah masuk ke rumahnya, iandre tidak kunjung lupa dengan niat dari lubuk hatinya untuk memperalat kita membersihkan rumahnya. Ya mau gimana lagi? (sikataga naranai) sebagai junior yang baik marilah kita bersihkan.

Kita di situ tidak begitu lama, kurang lebih satu jam. Bisa dibayangkan kalau ketujuan dan perjalanannya lebih lama di perjalanan. Iandre turut mengantar kita kembali ke shinjuku, untuk berbelanja elektronik. Sebenarnya saya yang ingin membeli rice cooker. Cukup murah sih dengan harga sekitar 6000 yen yang pada hari itu sedang discount 50%. Saya pikir barangnya masih ada, karena waktu kunjungan kami sebelumnya masih tersisa 3 unit rice cooker tersebut. Tapi waktu datang lagi, dan tokonya juga hampir tutup, yang ada hanya tinggal barang yang di display, ya pertaruhan lah karena barangnya memang dibutuhkan. Akhirnya saya beli itu rice cooker. Setelah itu karena kita sudah berjanji sama asri  (senpai (angkatan mitsui sebelumnya walaupun umurnya lebih muda)) jam 10 malam di Okubo station (eki)  kita Cuma melihat-lihat denshi jisho sebentar. Harganya sekitar 30.000 yen. Dan sedikit melirik-lirik ke setrika, padahal nyuci disini aja belom pernah haha. Soalnya barangnya kelihatan aneh dan bagus-bagus semua. Tidak lama kemudian kami naik JR line lagi ke Ookubo station. Untung ga begitu telat, dan pas sama Asri sampai ke situ, juga bertemu temennya Asri gak tau siapa dan memberikan celah suatu kesempatan karena datangnya kohai baru yang laki-laki untuk bisa bermain bola bersama-sama. Karena tahun lalu jumlah pemainnya kurang banyak. Setelah itu kita langsung kembali ke dormitory (ryou) tidak lupa membeli bento dulu karena walaupun rice cooker ada, berasnya belum beli haha. Lets see if i could break the super challanging test of rice maker of the day!

Ja mata!



Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.