Archive for the 1 Category

Burung Camar

Posted in 1 on September 16, 2009 by Harish

Burung camar terbang tinggi dilangit, ia memang dilangit, dan terus melihat keatas tanpa batas. Tapi ia bergerak maju, bukan keatas

Sarang ia tinggalkan untuk mencari jati dirinya atau menemukan apa yang ia cari. Siapa tahu yang ia cari bukanlah jati diri, tapi sesuatu yang biasa. Walaubagimanapun ia tetap pergi,kadang bergerombol, kadang pun tidak, tak tahu apa ia tersesat atau menyesat. Kadang juga perjalanan itu melupakannya, kadang sia-sia pula, apa mungkin perjalanan ini Cuma memenuhi hasrat keinginanya untuk melihat angkasa luas yang tak berbatas?

Ia memang terbang, tapi tetap tinggal di tanah, walaupun bukan seutuhnya tanah, tapi masih bersentuhan. Tempat tinggalnya cukup nyaman,dari ranting-ranting yang tersusun sangat rapih. Helai demi helai, pucuk demi pucuk. Tapi tak senyaman itu untuknya. Kadang begitu nyamannya sehingga ada ular masuk yang melilit sebagian kaki burung itu. Terkadang ia susah berjalan, tapi ia masih punya sayap untuk terus terbang Jadi apakah perjalanan hanya untuk melupakannya dari daratan?

Patung Pemikir

Posted in 1 on September 13, 2009 by Harish

Aku disini seperti patung duduk diam takk menentu melihat sosok congkak angkuh yang sumringah terus menengadah

Tak sedikitpun mengharap seonggok kasih dari kastil besar yang kokoh berdiri dengan batu batu gioknya yang keras. Mungkin ia keras, tapi serpih serpih didalamnya membuat ia rapuh.

Sinar mentari pun hanya menelobos lewat celah kecil perkusen raksasa yang rapat, sangat kecil dan sedikit. Satu ruang pun tiak cukup disinarinya, itu juga kadang kadang. Tapi aku tak tahu apa diseberang terjadi hal serupa karena aku hanya seonggok patung yang tak bergeser dari perteduhanku.

Kastil itu tak pernah sekali pun kalah dalam pertarungan politik, dengan perdana mentrinya lang licik. Ia membebaskan tanah pertanian rakyat rakyatnya hanya untuk memperluas kastil yang berisi tanah merah terbuka. Tak satupun berani menolak, kecuali atas perintah para leluhur.

Memang sampai saat ini selalu datang kepada kastil itu pedagang pedagang yang menawarkan barang dagangan. Itu juga tergantung dagangannya, mereka diberi izin keluar masuk kastil. Ada sebagian yang menetap diluar, kadang kadang Cuma dipanggil tapi tak digubris. Aku tahu memang sebagian ingin masuk tapi mau bagaimana lagi? Giok itu tampak sangat keras dari luar. Tapi tadi aku bilang sampai saat ini bukan? Aku sempat berpikir kalau kalau para pedagang itu sudah tak lagi menjual dagangannya ke kastil dan matahari telah bergeser dari kusen kusen raksasa yang rapat itu. Apa kastil itu merobohkan tembok tembok gioknya?